Guna Guna Istri Muda: Fakta Psikologis dan Realita Sosial di Balik Mitos Santet

Guna Guna Istri Muda: Fakta Psikologis dan Realita Sosial di Balik Mitos Santet

Pernah dengar cerita tentang suami yang tiba-tiba berubah drastis setelah menikah lagi? Atau mungkin tetangga yang bilang, "Wah, itu suaminya kena guna guna istri muda, makanya nurut banget." Fenomena ini bukan hal baru di Indonesia. Sejak zaman dulu, istilah guna-guna selalu jadi kambing hitam ketika ada dinamika keluarga yang dianggap nggak wajar. Tapi, jujur saja, apakah ini murni urusan mistis atau ada penjelasan yang lebih masuk akal di baliknya? Kita bakal bedah ini dari sudut pandang yang lebih luas, mulai dari sosiologi sampai psikologi modern.

Dunia supranatural memang punya tempat tersendiri dalam budaya kita. Namun, seringkali kita lupa kalau perilaku manusia itu kompleks banget.

👉 See also: Stupid Valentines Day Cards: Why We Love Buying Paper That Makes No Sense

Apa Sih Sebenarnya Guna Guna Istri Muda Itu?

Secara harfiah, orang sering mengasosiasikan guna guna istri muda dengan praktik klenik atau ilmu hitam yang bertujuan untuk memikat hati pria. Tujuannya beragam. Ada yang bilang supaya si suami lupa pada istri pertama, ada juga yang bilang supaya harta kekayaan jatuh ke tangan istri kedua. Tapi kalau kita bicara fakta lapangan, "guna-guna" ini seringkali adalah label sosial yang diberikan masyarakat ketika mereka melihat perubahan perilaku yang nggak logis pada seorang pria.

Misalnya, seorang pria yang tadinya sangat pelit tiba-tiba jadi royal luar biasa pada istri mudanya. Masyarakat yang bingung melihat perubahan ini biasanya lebih mudah menyimpulkan kalau itu adalah pengaruh "obat" atau "mantra." Padahal, bisa saja itu adalah bentuk euforia hubungan baru atau yang sering disebut limerence.


Mengapa Istilah Ini Terus Bertahan?

Budaya kita sangat kental dengan hal-hal yang sifatnya esoteris. Menurut riset antropologi dari Clifford Geertz mengenai kebudayaan Jawa, kepercayaan terhadap abangan dan dunia roh memang sudah mendarah daging. Jadi, kalau ada masalah rumah tangga yang pelik, menyalahkan kekuatan gaib jauh lebih mudah daripada mengakui adanya kegagalan komunikasi atau manipulasi psikologis.

Guna-guna jadi semacam mekanisme pertahanan diri bagi istri pertama atau keluarga besar. Daripada menerima kenyataan kalau si suami memang sudah tidak cinta lagi, lebih nyaman rasanya percaya kalau suami sedang "sakit" atau "dipengaruhi" secara gaib. Ini memberi harapan bahwa si suami bisa "disembuhkan."

Perspektif Psikologi: Daya Pikat atau Manipulasi?

Kalau kita geser sedikit ke arah sains, fenomena guna guna istri muda ini seringkali berkaitan dengan teknik manipulasi psikologis yang sangat halus. Ada yang namanya love bombing. Ini adalah kondisi di mana seseorang memberikan perhatian, pujian, dan kasih sayang yang intensitasnya luar biasa di awal hubungan.

Si pria merasa sangat dihargai. Ia merasa jadi "pahlawan" lagi.

Bagi pria yang mungkin merasa jenuh atau tidak dihargai di rumah tangga sebelumnya, perhatian masif dari istri muda ini terasa seperti obat. Dampaknya? Ia akan melakukan apa saja untuk mempertahankan perasaan senang itu. Secara kasat mata, ini terlihat seperti orang yang kena pelet. Padahal, ini adalah kerja hormon dopamin dan oksitosin dalam otak yang sedang meledak-ledak.

Pola Perilaku yang Sering Disalahpahami

  1. Perubahan Prioritas Keuangan: Banyak yang mengira suami kena guna-guna karena tiba-tiba menyerahkan semua asetnya. Dalam psikologi, ini bisa jadi bentuk rasa bersalah yang dikompensasi dengan materi, atau memang hasil dari persuasi yang sangat terencana.
  2. Isolasi Sosial: Istri muda yang manipulatif mungkin akan menjauhkan suami dari keluarga lamanya. Bukan pakai jin, tapi pakai argumen-argumen yang menyudutkan keluarga lama sampai si suami merasa "hanya dia yang mengerti saya."
  3. Kepatuhan Total: Ini sering disebut sebagai Gaslighting. Si suami dibuat merasa bahwa dia tidak berguna tanpa si istri muda, sehingga dia menjadi sangat patuh.

Realita Sosiologis di Masyarakat Indonesia

Di pedesaan maupun di kota besar, narasi tentang guna guna istri muda seringkali muncul dalam obrolan warung kopi hingga grup WhatsApp keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa literasi emosional kita masih kalah jauh dibanding kepercayaan pada mitos. Menariknya, kasus seperti ini seringkali muncul ke permukaan saat ada sengketa warisan atau hak asuh anak.

Ada sebuah studi kasus menarik di Jawa Tengah beberapa tahun lalu. Seorang pengusaha sukses meninggalkan keluarga lamanya demi wanita yang jauh lebih muda. Keluarga besarnya yakin dia kena guna-guna karena dia memberikan ruko-rukonya secara cuma-cuma. Namun, setelah ditelusuri lewat konseling hukum, si pengusaha merasa "terlahir kembali" karena istri mudanya memberikan validasi yang tidak pernah dia dapatkan selama 20 tahun pernikahan pertamanya.

Guna-guna di sini hanyalah bahasa kiasan untuk "kehilangan akal sehat karena cinta."


Mitos vs Fakta

  • Mitos: Suami yang kena guna-guna matanya akan terlihat kosong atau linglung.
  • Fakta: Secara klinis, linglung bisa jadi tanda depresi, kelelahan mental, atau justru tekanan batin karena menjalani dua kehidupan sekaligus.
  • Mitos: Hanya bisa disembuhkan dengan cara spiritual.
  • Fakta: Komunikasi terbuka, bantuan mediator profesional, dan terapi keluarga seringkali lebih efektif untuk mengurai benang kusut rumah tangga.

Bagaimana Cara Menghadapi Situasi Ini?

Kalau Anda berada dalam lingkaran keluarga yang sedang menghadapi isu guna guna istri muda, langkah pertama yang paling penting adalah tetap tenang. Jangan langsung lari ke dukun atau orang pintar. Kenapa? Karena seringkali itu justru menambah konflik dan menguras biaya yang tidak sedikit.

Pahami dulu dinamika hubungannya. Apakah ada tanda-tanda kekerasan psikologis? Apakah ada pemerasan materi yang nyata? Jika ya, ini adalah urusan hukum dan psikologi, bukan lagi urusan menyan.

Evaluasi Hubungan Secara Objektif
Sangat sulit untuk objektif saat emosi sedang meluap. Namun, cobalah lihat polanya. Jika perubahan perilaku suami terjadi secara perlahan seiring dengan meningkatnya intensitas pertemuan dengan istri muda, itu adalah proses belajar perilaku, bukan sihir instan.

Pentingnya Batas yang Tegas
Banyak pria yang "tersesat" dalam hubungan baru karena tidak adanya batasan yang jelas dari awal. Jika masalahnya adalah aset, pastikan dokumen hukum kuat. Jangan biarkan narasi guna-guna membuat kita pasrah dan tidak melakukan tindakan preventif secara hukum.

Langkah Praktis untuk Menjaga Kewarasan Keluarga

Menghadapi isu sensitif seperti guna guna istri muda membutuhkan kombinasi antara empati dan logika yang tajam. Anda tidak bisa melawan keyakinan seseorang hanya dengan ejekan, tapi Anda bisa menawarkan perspektif lain yang lebih memberdayakan.

Pertama, berhenti menyebarkan gosip atau asumsi tanpa bukti. Ini hanya akan memperkeruh suasana dan membuat si suami semakin merasa terasing dari keluarga aslinya. Kalau dia merasa dipojokkan dan dituduh "kena pelet," dia justru akan semakin lari ke pelukan istri mudanya yang dianggap sebagai "satu-satunya pelindung."

Kedua, cari bantuan profesional. Psikolog pernikahan bisa membantu membedah apakah ada pola narcissistic abuse yang terjadi. Jika ada indikasi penggunaan zat tertentu (seringkali ada mitos tentang "makanan yang sudah didoakan"), konsultasi medis adalah jalan yang paling benar untuk mendeteksi adanya zat kimia yang mempengaruhi syaraf.

Ketiga, fokus pada diri sendiri. Jika Anda adalah istri pertama yang merasa suaminya terkena guna-guna, fokuslah pada pemulihan diri dan kemandirian ekonomi. Terjebak dalam lubang hitam mencari penawar guna-guna seringkali hanya menghabiskan energi yang seharusnya bisa dipakai untuk membangun masa depan baru.

Intinya, guna guna istri muda mungkin eksis dalam ruang lingkup kepercayaan personal, tapi secara sosial dan psikologis, ia seringkali hanyalah label untuk fenomena manipulasi emosional yang gagal kita pahami. Dengan memahami akar permasalahannya, kita bisa bertindak lebih bijak dan tidak mudah terjebak dalam ketakutan yang tidak berdasar.

Pastikan setiap keputusan yang diambil didasari oleh bukti dan nalar yang sehat. Lindungi aset keluarga dengan jalur legal yang sah. Berikan dukungan moral kepada anggota keluarga yang terdampak tanpa harus menambah drama mistis yang tidak perlu. Keseimbangan antara menjaga tradisi dan menggunakan logika modern adalah kunci untuk keluar dari kemelut ini secara bermartabat.